Mencari Identitas Sunda Lewat Iket
“Saya pernah disangka penjual batu ali dan orang Baduy karena memakai iket,” kata Agus Bebeng (30), pewarta foto lembaga kantor berita nasional Antara. Bebeng adalah salah seorang yang memilih identitas Sunda dalam penampilan sehari-hari.
Memakai iket juga seperti menebus dosa budaya dan tanda cinta saya pada budaya Sunda. Dulu saya lebih memilih menggunakan mode Barat. Untuk penutup kepala, contohnya, saya memilih menggunakan slayer corak modern,” kata Bebeng.
Bebeng mulai menggunakan iket dari kain tahun 1997. Saat itu, ia terinspirasi masyarakat salah satu kampung adat. Keinginan memakai iket semakin besar ketika salah seorang tetua adat memberikannya selembar iket.
Hal serupa dialami Fachrul Rozi (27), fotografer lepas, yang sempat dianggap aneh ketika ada seorang ibu meminta foto bareng. Ibu itu menyangka ia adalah masyarakat desa adat.
Ia mempelajari lima teknik pemasangan iket. Teknik iket barangbang semplak lazim digunakan kusir dan jawara; koncer digunakan abdi dalem dan juragan; lohen digunakan pasangan pengantin; parekos digunakan pedagang dan petani; dan kuda mencar digunakan anak-anak.
“Tidak sekadar aksesori, iket ternyata juga menjadi lambang status sosial,” kata Rozi. Gaya dan “nyunda”
Ria Ellysa Mifelsa (29), penggiat komunitas teater Laskar Panggung, Bandung, mengaku, pertama kali menggunakan iket sepuluh tahun lalu hanya sekadar bergaya. Namun, lama kelamaan, itu justru menjadi kebiasaan yang sulit dilepaskan, khususnya ketika menghadiri acara tradisi Sunda.
Ia juga mempelajari bentuk iket berbagai macam daerah, filosofi, dan perkembangannya. Iket, disebutnya, multifungsi antara lain sebagai pelindung kepala, pembawa barang, dan status sosial. “Sama sekali tidak salah bila sebagian pengguna tidak tahu filosofinya. Saya sendiri tidak terlalu paham. Setidaknya kami menjadi bagian orang yang mencintai budaya Sunda,” katanya.
Menurut seniman Herry Dim, tidak dapat dimungkiri, khususnya di kota, iket menjadi sebuah gaya hidup. Seseorang ingin terlihat nyunda sehingga ia berpakaian Sunda. Namun, pandangan ini tidak bisa disalahkan. Menurut dia, semakin banyak orang menggunakannya, itu akan sangat berguna untuk melestarikan budaya Sunda.
Menurut dosen antroplogi Universitas Padjadjaran, Ira Indrawardhana, bagi masyarakat Sunda, iket bisa menjadi identitas. Dalam iket terkandung pesan antara lain menghormati orang tua dan selalu menempatkan kepentingan orang lain di atas keinginan sendiri.
Namun, meski sudah menjadi mode, iket kerap dilupakan masyarakat Sunda. Penggunaannya kerap dikatakan kuno, ketinggalan zaman. Menurut Ira, itu merupakan pandangan keliru. Alasannya, masalah cocok atau tidak hanya berputar pada sering atau tidaknya suatu hal digunakan banyak orang. Ia mencontohkan peci yang dipopulerkan Soekarno atau kafiyeh yang dipopulerkan Yasser Arafat. Semakin banyak orang menggunakannya, masyarakat akan semakin mengenal dan menggunakannya.
Ira tidak mempermasalahkan iket digunakan sekadar mengikuti mode. Alasannya, selama iket digunakan dan dilihat banyak orang, itu tentunya menjadi promosi kuat bagi budaya Sunda.
“Saya pribadi memilih menggunakan iket cetak dengan gaya yang paling banyak digunakan, yaitu barangbang semplak. Penggunanya tidak perlu mengikat sendiri, tetapi disiapkan bentuk jadi sehingga tidak rumit,” katanya.
sumber : kompas
Tampilkan postingan dengan label Fitur Orang Banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fitur Orang Banten. Tampilkan semua postingan
Tari & Ngibing Pencak Silat
Salah satu aspek yang tidak kalah penting dalam pencak silat adalah aspek seni pencak silat, yang lebih populer di Jawa Barat dengan sebutan ibing namun tidak sedikit orang menyebut aspek seni pencak silat ini dengan istilah tari pencak silat padahal dalam kenyataan yang sebenarnya bahwa istilah ibing pencak silat dengan istilah tari pencak silat mempunyai pengertian yang berbeda. Ibing Pencak Silat mempunyai pengertian yang lebih mendalam dibanding tari pencak silat, karena dalam ibing pencak silat selain ada unsur keindahan gerak di dalamnya, mempunyai tujuan akhir menjatuhkan lawan, sehingga dalam ibing pencak silat unsur beladirinya lebih menonjol. Sedangkan istilah tari lebih ditekankan pada unsur keindahannya saja tidak ada unsur beladirinya, seperti tari-tarian yang sering kita lihat. Oleh karena itu rasanya kurang tepat apabila pencak silat disebut sebagai tari pencak silat, sebab pada umumnya para ahli pencak silat di Jawa Barat menyebut seni pencak silat dengan sebutan ngibing pencak silat bukan tari pencak silat.Pada mulanya pencak silat lahir karena kebutuhan masyarakat untuk mempertahankan diri, dapat dipahami kalau aspek yang menonjol adalah aspek beladiri. Namun pada kurun waktu tertentu, disebabkan situasi politik pada saat itu (zaman penjajahan Belanda) yang tidak begitu respek terhadap beladiri pencak silat, maka pengembangan pencak silat beralih dari aspek beladiri ke aspek seni. Hal ini merupakan salah satu taktik dari para pendekar pencak silat untuk tetap melestarikan pencak silat. Padahal jika diperhatikan lebih seksama, justru dalam seni pencak silat tersembunyi kaidah beladiri pencak silat.
Di Jawa Barat, di samping dikenal dengan aspek beladirinya, yang lebih dikenal dengan sebutan buah atau eusi, dikenal pula aspek pencak silat seni yang disebut kembang atau ibing pencak silat, sehingga apabila mendengar kata "pencak" yang terbayang oleh masyarakat Jawa Barat bukanlah suatu sistem pembelaan diri, melainkan suatu seni ngibing pencak silat yang diambil dari gerak serangan dan belaan.
Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam ibing pencak silat,
antara lain:
Pertama, unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya, sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila tampil di atas pentas (terutama dalam pertandingan seni pencak silat), tetapi apabila dalam kaulan (spontanitas) pada acara hajatan unsur kekayaan geraknya tidak begitu diperhatikan pesilat yang penting pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.
Kedua, unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Gendang Pencak adalah merupakan sejenis alat musik tradisional yang biasa dipakai mengiringi pesilat yang tampil di atas panggung atau pentas dan alat tradisional ini sering digunakan dalam pertandingan pencak silat seni dan acara khitanan atau acara kesenian daerah lainnya, daerah – daerah yang masih mempergunakan peralatan tradisional ini di antaranya, daerah Bogor, Sukabumi, Bandung, Cianjur, Garut, dan banyak lagi daerah lainnya di Jawa Barat. Seperangkat peralatan pengiring seni pencak silat atau lebih dikenal dengan nama kendang pencak silat adalah:
1. Gendang induk, (Kendang indung)
2. Gendang anak, (kendang anak)
3. Kulanter (kendang kecil)
4. Terompet (tarompet)
5. Goong (Gong)
Gendang pencak dimainkan oleh 4 (empat) orang penabuh (nayaga/wiyaga). Mereka mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya sehingga gendang pencak silat mempunyai nilai seni kedaerahan yang khas dan selain itu mempunyai nilai keindahan, etika, dan estetika. Adanya keserasian dari irama gendang, terompet, dan gong yang mengeluarkan bunyi tersendiri membuat orang yang mendengarnya menjadi kagum apalagi apabila irama ini sambil dihayati, dinikmati, dan dirasakan akan memiliki nilai seni yang sangat tinggi.
Ada beberapa kelebihan dari penabuh kendang pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ngibing pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia mampu mengiringi gerakan-gerakan lain yang tidak dirancang sebelumnya atau gerakan beladiri lain diluar pencak silat yang ingin mencoba diiringi oleh tabuhan kendang pencak silat, biasanya penabuh mempergunakan irama padungdung karena irama ini dianggapnya lebih mudah bila dibandingkan dengan irama paleredan atau tepak dua.
Apabila pesilat yang sedang tampil di atas pentas tiba-tiba melakukan kesalahan maka iramanya tidak akan cocok dengan gerakan yang ditampilkan, dan yang melihat akan menilai bahwa penampilan pesilat tadi belum paham dengan irama gendang pencak yang mengiringinya. Oleh karena itu, seorang pesilat seni sebelum tampil di atas pentas perlu latihan lebih dahulu dengan tekun dan serius serta harus peka terhadap gerakan – gerakan yang akan ditampilkannya di atas pentas serta diwajibkan memperhatikan patokan-patokan irama ngibing pencak silat yang sudah ada, misalnya ibing paleredan, tepak dua, tepak tiga, padungdung, dan lain sebagainya.
Ketiga, unsur penjiwaan gerak (wirasa) yaitu salah satu unsur yang sangat penting dimiliki oleh seorang pesilat karena penjiwaan gerak ini sulit dipelajari dan dipahami pesilat di samping memerlukan waktu yang cukup lama. Penjiwaan gerak merupakan salah satu unsur yang mempunyai nilai seni beladiri tinggi dalam aspek pencak silat seni. Oleh karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.
Di samping unsur-unsur tersebut di atas, ada faktor pendukung lainnya yang tidak bisa dipisahkan dari aspek seni pencak silat, antara lain pakaian pencak silat, pakaian pencak silat di Jawa Barat umumnya disebut pangsi, pangsi dipakai oleh seorang pesilat pada waktu pentas (tampil) dalam pertandingan, latihan, ujian kenaikan tingkat, dan pada upacara-upacara tertentu.
Tokoh-tokoh pencak silat biasanya memakai pangsi warna hitam dengan ikat kepala barangbang semplak atau peci, ikat pinggang kulit atau kain sarung, namun sekarang pakaian pencak silat sudah dikemas sedemikian rupa disesuaikan dengan kebutuhan, termasuk warna pakaian tidak selalu hitam-hitam, begitupun dalam sabuk (ikat pinggang) disesuaikan dengan tingkatan masing-masing, terutama dalam pertandingan pencak silat seni.
Menjual wisata orang kanekes

LEBAK – Banten tak pernah kehabisan cerita. Provinsi yang baru di bagian barat tanah Jawa ini punya segudang potensi pariwisata. Dari petualangan alam yang menantang, panorama yang mengundang decak kagum sampai keunikan budaya masyarakatnya. Tentu saja, semua itu bila digarap serius bisa jadi nilai tambah bagi perekonomian penduduk.
Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat-tradisi yaitu Suku Badui. Mereka di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat Badui pada umumnya terletak pada daerah aliran sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng, Banten Selatan. Letaknya sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta; sekitar 65 km sebelah selatan ibu kota Provinsi Banten.
Pinda Octariano, tour officer Saptawira Adhitama Tours & Travel cuma bisa geleng-geleng kepala ketika mengunjungi masyarakat Badui beberapa waktu lalu. Bukan apa-apa, ia begitu kagum dengan kehidupan tradisional ini.
Bagi pemuda berkacamata ini, yang terbiasa hidup di kota metropolis – Jakarta, kehidupan yang sederhana itu terasa begitu primitif. “Bayangin, di sana nggak ada listrik dan pompa air. Kalo malam jadinya gelap gulita. Kebetulan karena kita datang, mereka baru nyalakan lampu templok.”
Berbicara dalam gelap buat mereka sudah biasa. Tapi buat Pinda dan kawan-kawannya itu adalah sesuatu yang ganjil. Maklum, di rumah mereka terbiasa dengan penerangan yang terang-benderang.
Keheranan mereka tak sampai di situ. Waktu mau mandi, mereka terlihat begitu rikuh. Pasalnya, nggak biasa mandi kali. Shower yang ada bukan terbuat dari bahan logam, tetapi dari belahan batang bambu yang diselipkan pada aliran air. Soal mutu airnya, tak perlu ragu lagi. Cuma karena nggak biasa Pinda akhirnya batal mandi pagi.
Acara jalan-jalan santai ini sebetulnya merupakan ajakan dari Semeru Indah Wisata. Ini rekanan dari Saptawira Adhitama Tours & Travel. Mereka mengajak Pinda dan Vita Justicia untuk mencicipi paket pelesiran yang baru, Weekend to Badui Village. Nantinya, paket dua hari satu malam ini akan “menembak” pasar wisatawan lokal dan mancanegara.
Perkampungan Badui sebetulnya sudah terkenal dari sejak dulu. Tak jelas kapan pastinya, kehidupan masyarakat bersahaja ini mulai dijual sebagai wisata budaya dan petualangan. Kata Pinda, Badui kebanyakan dijelajahi oleh para penggemar petualangan. “Kalau perusahaan travel rasanya baru pertama kali yang kemarin itu deh.”
Vita Justicia ikut menimpali, “Kami mau coba jajaki paket (Badui) ini untuk dijual kepada mahasiswa dan anak-anak sekolah. Paling nggak ada tiga sampai empat orang saja sudah kita berangkatkan.” Dari situ, pelan-pelan mereka akan membidik pasar buat orang-orang yang suka petualangan.
Cerita soal Badui memang menarik diikuti. Konon, para ilmuwan, masyarakat Indonesia dan internasional yang menamakan kelompok penghuni di kawasan pegunungan Kendeng, Banten Selatan itu sebagai orang Badui. Kata Badui itu sendiri datang dari sebuah bukit “gunung Badui” dan mata air CiBadui di selatan Kampung Kerdu Ketug, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar.
Orang Badui sendiri menamakan kelompok mereka dengan sebutan Orang Kanekes. Nama Kanekes berasal dari sungai Cikanekes yang mengalir di daerah itu.
Ada dua kelompok penduduk di kawasan seluas sekitar 5.102 ha di Kabupaten Lebak itu. Yang terbesar, sekitar 7.000 jiwa. Kelompok ini disebut Urang Panamping (Orang Panamping, sebutan untuk Badui Luar). Mereka tinggal di bagian utara wilayah tadi. Masyarakat ini menempati 28 kampung yang punya delapan anak kampung (babakan). Di bagian selatan, terdapat hunian orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai Urang Tangtu (Badui Dalam).
Pada tahun 2000, kelompok yang mendiami tiga buah kampung itu (Cikeusik, Cikartawana dan Cibeo) populasinya mendekati 800 jiwa. Orang Tangtu menyebut saudara-saudara mereka di bagian utara (yang ciri khas ikat kepalanya bercorak batik warna biru tua) dengan Urang Kaluaran (orang yang dikeluarkan). Orang Kaluaran memanggil saudara mereka di bagian selatan sebagai Urang Girang.
Etos kerja orang Badui
Orang Badui atau Urang Rawayan adalah sekelompok komunitas Sunda yang kebudayaannya dianggap kebudayaan minoritas (culture minority), sebab mereka dianggap oleh orang yang tidak tahu sebagai etnis minoritas. Badui bukan etnis minoritas. Masyarakat Badui adalah bagian dari etnis Sunda.
Perubahan administratif suatu geografis tidak serta-merta menyebabkan etnis yang terpisahkan itu menjadi etnis Cina, Batak, Padang, dan lain-lain, sejauh kedua etnis terpisahkan oleh dinding administratif itu tetap terikat oleh filsafat, kesenian, bahasa, dan kepercayaan yang sama. Dan sampai hari ini, orang Badui masih bertutur kata Sunda, berfilsafat Sunda, berkesenian Sunda, dan berkepercayaan Sunda.
Orang Badui adalah salah satu komunitas Sunda yang cerdas memelihara dirinya dari jerat-jerat kebudayaan eksogen yang dihasilkan lewat out breeding kebudayaan luar yang dibawa oleh individu-individu yang miskin kultural. Orang Badui masih mampu memelihara identitas diri (self identity) etnisnya.
Identitas diri atau jati diri adalah cara seseorang memandang, membayangkan, dan mencirikan dirinya. Identitas diri pada umumnya ditampakkan lewat cara seseorang berpakaian. Pakaian orang Badui, sangat khas berciri etnik. Mereka tidak malu berpakaian tidak sebagaimana umumnya masyarakat sekelilingnya. Dan tak seorang pun di antara kita yang memandang rendah.
Kecuali orang Badui, kita termasuk orang-orang yang kehilangan identitas dirinya. Bangsa-bangsa yang cerdas memelihara identitas dirinya di antaranya adalah bangsa India, bangsa Afrika, bangsa Cina, bangsa Melayu, dan bangsa Jepang. Bangsa-bangsa tersebut sekurang-kurangnya tetap memelihara identitas dirinya lewat caranya berpakaian. Dan bangsa Sunda, daripada berpakaian etnisnya, mereka lebih memilih pakaian model bangsa Arab, seperti gamis dan surban. Bisa jadi orang-orang Sunda tersebut membayangkan, memandang, dan mencirikan dirinya sebagai orang Arab dan hal itu absah sangat.
Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini belum pernah mengharapkan bantuan dari luar. Mereka mampu secara mandiri dengan cara bercocok tanam dan berladang (ngahuma), menjual hasil kerajinan tangan khas Badui, seperti Koja dan Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu Teureup); tenunan berupa selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung serta golok/parang, juga berburu.
Masyarakat Badui bagaikan sebuah negara yang tatanan hidupnya diatur oleh hukum adat yang sangat kuat. Semua kewenangan yang berlandaskan kebijaksanaan dan keadilan berada di tangan pimpinan tertinggi, yaitu Puun. Puun bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan hidup masyarakat yang dalam menjalankan tugasnya itu dibantu juga oleh beberapa tokoh adat lainnya.
Sebagai tanda setia kepada Pemerintahan RI, setiap akhir tahun mereka menggelar upacara Seba kepada ”Bapak Gede” (Panggilan Kepada Bupati Lebak) dan Camat Leuwidamar.
Pemukiman masyarakat Badui berada di daerah perbukitan. Tempat yang paling rendah berada pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Sehingga dapat dibayangkan bahwa rimba raya di sekitar pegunungan Kendeng merupakan kawasan yang kaya akan sumber mata air yang masih bebas polusi.
Lokasi yang dijadikan pemukiman pada umumnya berada di lereng gunung, celah bukit serta lembah yang ditumbuhi pohon-pohon besar, yang dekat dengan sumber mata air. (bay)
editing dari sinar harapan
Baduy bukan Suku Asing

Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisi yaitu Suku Baduy yang tinggal di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat Baduy pada umumnya terletak pada daerah aliran sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng - Banten Selatan. Letaknya sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta; sekitar 65 km sebelah selatan ibukota Provinsi Banten.
Masyarakat Baduy yang menempati areal 5.108 ha (desa terluas di Provinsi Banten) ini mengasingkan diri dari dunia luar dan dengan sengaja menolak (tidak terpengaruh) oleh masyarakat lainnya, dengan cara menjadikan daerahnya sebagai tempat suci (di Penembahan Arca Domas) dan keramat. Namun intensitas komunikasi mereka tidak terbatas, yang terjalin harmonis dengan masyarakat luar, melalui kunjungan.
Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini belum pernah mengharapkan bantuan dari luar. Mereka mampu secara mandiri dengan cara bercocok tanam dan berladang (ngahuma), menjual hasil kerajinan tangan khas Baduy, seperti Koja dan Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu Teureup); tenunan berupa selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung serta golok/parang, juga berburu.
Masyarakat Baduy bagaikan sebuah negara yang tatanan hidupnya diatur oleh hukum adat yang sangat kuat. Semua kewenangan yang berlandaskan kebijaksanaan dan keadilan berada di tangan pimpinan tertinggi, yaitu Puun. Puun bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan hidup masyarakat yang dalam menjalankan tugasnya itu dibantu juga oleh beberapa tokoh adat lainnya.
Sebagai tanda setia kepada Pemerintahan RI, setiap akhir tahun suku yang berjumlah 7.512 jiwa dan tersebar dalam 67 kampung ini mengadakan upacara Seba kepada “Bapak Gede” (Panggilan Kepada Bupati Lebak) dan Camat Leuwidamar.
Pemukiman masyarakat Baduy berada di daerah perbukitan. Tempat yang paling rendah berada pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Sehingga dapat dibayangkan bahwa rimba raya di sekitar pegunungan Kendeng merupakan kawasan yang kaya akan sumber mata air yang masih bebas polusi.
Lokasi yang dijadikan pemukiman pada umumnya berada di lereng gunung, celah bukit serta lembah yang ditumbuhi pohon-pohon besar, yang dekat dengan sumber mata air. Semak belukar yang hijau disekitarnya turut mewarnai keindahan serta kesejukan suasana yang tenang. Keheningan dan kedamaian kehidupan yang bersahaja.
konon orang2 Kanekes mengakui dirinya sebagai turunan Batara Cikal yang merupakan satu dari 7 dewa (batara) yang diutus ke bumi dengan tugas utamanya bertapa tuk menjaga harmoni dunia. Mereka dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:
1. Baduy Dalam (tangtu). Mereka merupakan masyarakat anti teknologi dalam arti yang sebenar2nya dengan ciri pakaian putih dan biru tua berikat kepala putih
2. Baduy Luar (panamping). Mereka tinggal di luar wilayah baduy dalam berciri pakaian dan ikat kepala hitam. beberapa masyarakatnya sudah tidak sesaklek masyarakat baduy dalam.
3. Dangka. Mereka tinggal diluar wilayah Kanekes yaitu Padawaras dan Sirah Dayeuh, yang katanya berfungsi sebagai daerah pelindung dari pengaruh dunia luar.
Ngeunaan Basa Sunda

Perkawis ieu mah... peryogi ditalungtik kalayan eces.. bilih urang lepat.. anu lami-lami mah.. basa lemes teh tiasa musnah alatan tos tara dianggo deui.
Memang.. basa lemes vs kasar teh.. seueur dilarapkeun dina hubungan menak vs cacah, dunungan vs bawahan. Numutkeun sim kuring mah... anu ku urang tiasa di"leungitkeun" mah.. ngagunakeun "basa kasar" anu maksadna janten ngaleungitkeun sikep langkung "punjul" ti batur/anu diajak cumarios tea -ieu anu disebatkeun "feodal" anu saleresna mah- (upamina: Mang geura mantog! urang leungitkeun.. Cukup: Mang geura balik. Bisa oge langsung make basa lemes: Mang geura mulih we tos sonten, enjing padamelan nana dilajengkeun deui... raraosan mah henteu/moal ngirangan kana kahormatan anu cumariosna, misal Pak Camat nyarios kitu ka padamel kebonna). Anapon migunakeun basa lemes... apanan aya patalina sareng sikep "mihormat" anu dilarapkeunana sanes mung sakadar dina hubungan menak vs cacah, dunungan vs bawahan wungkul, tapi oge dina hubungan murangkalih ka sepuh (sahandapeun ka saluhureun) , murid ka guru jrrd. Dina basa Korea oge, basa kanggo ka Guru, sareng anu yuswana saluhureun (oge ka anu pangkatna saluhureun) teh nya nganggo basa lemes.
Numutkeun sim kuring mah... basa lemes teh dina ngalarapkeun nana aya patalina sareng atikan sopan santun/budi pekerti ... murangkalih ka sepuh, sahandapeun ka saluhureun.. oge murid ka guru. Contona bae, di kulawargi anu biasa ngagunakeun basa lemes : anggota kulawargina biasa saling cumarios ngagunakeun basa lemes : murangkalih: "ema, hoyong emam deui, tadi henteu wareg" emana : "mangga, tapi ulah seueur teuing, bilih kamerekaan". Lamun nganggo basa biasa/rada kasarmah panginten kieu : "ma, lapar keneh, hayang dahar deui nya!" emana : "kop wae, tapi tong loba teuing, bisi kamerekaan".
Kasimpulan ti sim kuring: anu tiasa ku urang nyobian dileungitkeun mah, basa kasar, anapon basa lemes mah, (sanaos peryogi ditalungtik deui!) aya saena kanggo ngatik budi pekerti.
Nyuhunkeun dihapunten...tangtos seueur kalepatan.
(Menta dihampura.. pasti loba kasalahan..)
Langganan:
Postingan (Atom)